<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>All About Nursing</title>
	<atom:link href="http://mrgie.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mrgie.wordpress.com</link>
	<description>Berkreasi dan Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Feb 2010 20:24:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mrgie.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>All About Nursing</title>
		<link>http://mrgie.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mrgie.wordpress.com/osd.xml" title="All About Nursing" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mrgie.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pengaruh Metode Pembelajaran dan Motivasi Belajar Terhadap Kompetensi Komunikasi Terapetik Mahasiswa Program Profesi Ners</title>
		<link>http://mrgie.wordpress.com/2010/02/17/pengaruh-metode-pembelajaran-dan-motivasi-belajar-terhadap-kompetensi-komunikasi-terapetik-mahasiswa-program-profesi-ners/</link>
		<comments>http://mrgie.wordpress.com/2010/02/17/pengaruh-metode-pembelajaran-dan-motivasi-belajar-terhadap-kompetensi-komunikasi-terapetik-mahasiswa-program-profesi-ners/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 12:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mas gie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mrgie.wordpress.com/2010/02/17/pengaruh-metode-pembelajaran-dan-motivasi-belajar-terhadap-kompetensi-komunikasi-terapetik-mahasiswa-program-profesi-ners/</guid>
		<description><![CDATA[ABSTRAK Giyanto. S540908107. 2010. Pengaruh Bedside Teaching dan Motivasi Belajar Terhadap Kompetensi Komunikasi Terapetik Mahasiswa Program Profesi Ners. Tesis, Program Studi Kedokteran Keluarga, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) perbedaan pengaruh antara metode pembelajaran bedside teaching dengan metode pembelajaran demonstrasi terhadap kompetensi komunikasi terapetik pada mahasiswa program profesi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mrgie.wordpress.com&amp;blog=6719154&amp;post=52&amp;subd=mrgie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ABSTRAK</p>
<p>Giyanto. S540908107. 2010. Pengaruh Bedside Teaching dan Motivasi Belajar Terhadap Kompetensi Komunikasi Terapetik Mahasiswa Program Profesi Ners. Tesis, Program Studi Kedokteran Keluarga, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.</p>
<p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) perbedaan pengaruh antara metode pembelajaran bedside teaching dengan metode pembelajaran demonstrasi terhadap kompetensi komunikasi terapetik pada mahasiswa program profesi Ners, 2) perbedaan pengaruh antara motivasi belajar tinggi dengan motivasi belajar rendah terhadap kompetensi komunikasi terapetik mahasiswa program profesi Ners, 3) interaksi pengaruh antara metode pembelajaran dengan motivasi belajar terhadap kompetensi komunikasi terapetik mahasiswa program profesi Ners.<br />
Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest control group design. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa program profesi Ners yang sedang menempuh stase keperawatan jiwa di RSJ Prof. dr. Soeroyo Magelang. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh dengan jumlah 60 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan tes objektif untuk mengukur kemampuan kognitif komunikasi terapetik mahasiswa, daftar cek (checklist) observasi untuk mengukur kemampuan psikomotor komunikasi terapetik mahasiswa dan kuesioner untuk mengukur kemampuan afektif komunikasi terapetik mahasiswa serta motivasi belajar mahasiswa. Analisa data menggunakan uji t (t-test) untuk sampel berkorelasi dan Anava 2 jalur (two-way Anova) dengan bantuan program SPSS Versi 17.<br />
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat perbedaan pengaruh yang bermakna antara metode pembelajaran bedside teaching dengan metode pembelajaran demonstrasi terhadap kompetensi komunikasi terapetik mahasiswa dimana diperoleh nilai t hitung sebesar 8,378 dengan nilai p sebesar 0,000 (p ≤ 0,05); 2) terdapat perbedaan pengaruh yang bermakna antara motivasi belajar tinggi dengan motivasi belajar rendah terhadap kompetensi komunikasi terapetik mahasiswa dimana diperoleh nilai t hitung sebesar 4,254 dengan nilai p sebesar 0,000 (p ≤ 0,05); 3) tidak terdapat interaksi pengaruh antara metode pembelajaran dengan motivasi belajar terhadap kompetensi komunikasi terapetik mahasiswa dimana diperoleh nilai F hitung sebesar 0,012 dengan nilai p sebesar 0,914 (p &gt; 0,05). </p>
<p>Kata kunci:  bedside teaching, demonstrasi, motivasi belajar, kompetensi komunikasi terapetik</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mrgie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mrgie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mrgie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mrgie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mrgie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mrgie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mrgie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mrgie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mrgie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mrgie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mrgie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mrgie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mrgie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mrgie.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mrgie.wordpress.com&amp;blog=6719154&amp;post=52&amp;subd=mrgie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mrgie.wordpress.com/2010/02/17/pengaruh-metode-pembelajaran-dan-motivasi-belajar-terhadap-kompetensi-komunikasi-terapetik-mahasiswa-program-profesi-ners/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ba4308ffa91a3cca96ab6ac537953947?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mas gie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dogma Kausatif dalam Keperawatan Jiwa</title>
		<link>http://mrgie.wordpress.com/2009/07/14/dogma-kausatif-dalam-keperawatan-jiwa/</link>
		<comments>http://mrgie.wordpress.com/2009/07/14/dogma-kausatif-dalam-keperawatan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 05:56:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mas gie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mrgie.wordpress.com/2009/07/14/dogma-kausatif-dalam-keperawatan-jiwa/</guid>
		<description><![CDATA[Ada pengalaman menarik, ketika penulis menjadi penguji lahan pada ujian komprehensif mahasiswa D3 kelas khusus di sebuah prodi keperawatan. Pada uji tahap 1 (praktik klinik) dan tahap 3 (uji sidang), seringkali penguji dari akademik mematahkan argumentasi mahasiswa dengan dogma kausatif. Menurutnya, semua masalah keperawatan jiwa bisa dipecahkan dengan mencari dan mengatasi penyebabnya. Mahasiswa dianggap hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mrgie.wordpress.com&amp;blog=6719154&amp;post=49&amp;subd=mrgie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada pengalaman menarik, ketika penulis menjadi penguji lahan pada ujian komprehensif mahasiswa D3 kelas khusus di sebuah prodi keperawatan. Pada uji tahap 1 (praktik klinik) dan tahap 3 (uji sidang), seringkali penguji dari akademik mematahkan argumentasi mahasiswa dengan dogma kausatif. Menurutnya, semua masalah keperawatan jiwa bisa dipecahkan dengan mencari dan mengatasi penyebabnya. Mahasiswa dianggap hanya membuang-buang waktu ketika melakukan pendekatan intervensi yang mengarah pada masalah. Padahal jelas-jelas pasien yang dijadikan subjek ujian seluruhnya pasien skizofrenia.</p>
<p>Sepintas dan pada umumnya memang tidak banyak perbedaan yang mencolok antara keperawatan jiwa dengan cabang keperawatan lainnya karena semuanya menggunakan pendekatan yang sama, yaitu proses keperawatan. Oleh karenanya banyak dosen maupun praktisi keperawatan jiwa yang beranggapan bahwa pola pikir dalam keperawatan jiwa serupa atau hampir sama dengan cabang keperawatan lain, khususnya medikal bedah. </p>
<p>Sehingga banyak usaha mereka lakukan (sadar maupun tidak sadar) untuk mengadopsi kaidah yang dipakai pada keperawatan medikal bedah kedalam keperawatan jiwa. Bahkan saking getolnya, mereka juga mengadopsi dogma kausatif. Semua masalah keperawatan selalu ada sebabnya (etiologinya). Mengatasi masalah harus dilakukan dengan mengatasi penyebabnya. Jika ada infeksi, maka harus dicari dan diatasi penyebabnya. Jika ada defisit volume cairan, maka harus dicari dan diatasi penyebabnya. Demikian seterusnya. Sangat mirip dengan pendekatan kedokteran. Seolah sangat logis dan ilmiah, apa yang dikemukakan. Tidak mengherankan, banyak diantaranya yang menerima begitu saja tanpa pikir panjang. Namun, benarkah harus demikian?</p>
<p>Perawat dengan ilmu keperawatannya sesungguhnya bekerja dalam ranah respon. Respon memang hanya akan muncul jika ada penyebab respon. Demikian pula dalam keperawatan jiwa. Munculnya respon halusinasi, waham, isolasi sosial, harga diri rendah dan lain-lain tidak terlepas dari penyebab yang mendasarinya. Bisa karena penggunaan halusinogen, kebutuhan yang tidak terpenuhi, tidak percaya diri, kurang feedback positif, dan lain-lain. Dengan dogma kausatif, mengatasi respon tersebut sangatlah mudah, respon akan segera tuntas jika etiologinya dihilangkan. Namun faktanya tidaklah demikian. </p>
<p>Dalam keperawatan jiwa, baik yang hospital based maupun community based, respon tidak serta merta hilang, meskipun penyebabnya sudah diatasi. Perilaku kekerasan tidak serta merta hilang, meskipun penyebab marahnya telah dihilangkan. Halusinasi tidak langsung hilang, malah kadang menetap, meskipun telah diberikan intervensi yang mengarah pada etiologinya. Harga diri tidak meningkat meskipun seluruh komponen konsep diri telah diupayakan perbaikan. Demikian pula dengan masalah keperawatan lainnya. Karena kebanyakan pasien yang kita hadapi sudah pada rentang respon maladaptif berkepanjangan (kronis), tidak lagi sekedar mengalami gangguan psikososial ringan. Bahkan 95% pasien didiagnosis (psikiatrik) psikosis (sebagian besar skizofrenia) dengan sifat gangguan yang fluktuatif, eksaserbatif, dan residif. Mekanisme patopsikologis pasien tidak lagi sederhana, bahwa ada penyebab maka muncul respon. Patopsikologis pasien sudah sangat komplek dan rumit, sehingga sangat sulit untuk diurai dan dijelaskan. Sudah ada keterlibatan fungsi neurobiologis yang kadang bersifat permanen dan irreversible. </p>
<p>Berdasarkan fakta-fakta tersebut, jelas bahwa dogma kausatif tidak sepenuhnya tepat jika dilaksanakan dalam keperawatan jiwa. Oleh karena itu, sejak 2005, keperawatan jiwa menganut single statement diagnosis. Pernyataan diagnosis cukup dituliskan problemnya saja. Perawat jiwa sadar, bahwa yang realistis bisa diupayakan sesungguhnya hanyalah mencegah gangguan tidak bertambah parah dan mengoptimalkan kemampuan yang masih tersisa pada diri pasien.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mrgie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mrgie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mrgie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mrgie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mrgie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mrgie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mrgie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mrgie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mrgie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mrgie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mrgie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mrgie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mrgie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mrgie.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mrgie.wordpress.com&amp;blog=6719154&amp;post=49&amp;subd=mrgie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mrgie.wordpress.com/2009/07/14/dogma-kausatif-dalam-keperawatan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ba4308ffa91a3cca96ab6ac537953947?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mas gie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara MPKP Atau MAKP?</title>
		<link>http://mrgie.wordpress.com/2009/05/12/antara-mpkp-atau-makp/</link>
		<comments>http://mrgie.wordpress.com/2009/05/12/antara-mpkp-atau-makp/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 12:40:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mas gie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mrgie.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira awal era 2000-an, dunia keperawatan Indonesia mulai dilanda demam trend baru, yaitu model praktik keperawatan profesional atau disingkat MPKP. Gagasan penerapan MPKP ini, bermula dari kesadaran bahwa sudah saatnya perawat Indonesia mengaplikasikan tatanan model praktik keperawatan berbasis profesionalitas. Profesional dari sisi sumber daya manusia, sarana-prasarana, dan yang terpenting profesional dalam hal mutu asuhan keperawatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mrgie.wordpress.com&amp;blog=6719154&amp;post=46&amp;subd=mrgie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kira-kira awal era 2000-an, dunia keperawatan Indonesia mulai dilanda demam trend baru, yaitu model praktik keperawatan profesional atau disingkat MPKP. Gagasan penerapan MPKP ini, bermula dari kesadaran bahwa sudah saatnya perawat Indonesia mengaplikasikan tatanan model praktik keperawatan berbasis profesionalitas. Profesional dari sisi sumber daya manusia, sarana-prasarana, dan yang terpenting profesional dalam hal mutu asuhan keperawatan yang diberikan pada klien. Implementasi konsep MPKP, terutama di area keperawatan jiwa, dimotori dan di- support sepenuhnya oleh Dr. Budi Anna Keliat, M.App.Sc beserta crew dari FIK UI. Meskipun tidak bisa dibilang mulus-mulus saja, namun penerapan MPKP lambat laun mulai diadopsi oleh sebagian besar RSJ di Indonesia, seperti RSJ Bogor, RSJ Magelang, RSJ Lawang, RSJ Surakarta dan RSJ Semarang. Hasilnya cukup signifikan dalam meningkatkan kinerja perawat dan mutu layanan keperawatan jiwa. Setidaknya itu menurut hasil beberapa riset yang rutin dipublikasikan lewat forum konferensi nasional keperawatan jiwa (KONAS Jiwa) yang hampir tiap tahun digelar.</p>
<p>Setelah hampir satu dekade penerapan MPKP, mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang menyoal kata per kata dalam singkatan MPKP. Ada yang menyoal penggunaan kata model, ada pula yang menyoal kata praktik, dan ada pula yang menyoal kata profesional. Kata model disoal karena katanya terlalu berbau laboratoris, prototype, dan tidak untuk konsumsi publik. Kata profesional disoal karena katanya merendahkan (baca: menganggap tidak profesional) praktik keperawatan yang telah dilakukan sebelumnya. Kata praktik, akhir-akhir ini juga disoal karena kata tersebut dengan identik dengan mahasiswa praktek atau praktek mahasiswa. Kemudian muncul ide untuk mengganti kata praktik dengan kata pelayanan, sehingga kepanjangannya berubah menjadi model pelayanan keperawatan profesional, singkatannya masih tetap MPKP. Ide paling mutakhir yang gencar dimunculkan adalah mengganti kata pratik menjadi asuhan, hal ini didasarkan pada beberapa literatur manajemen keperawatan yang menyebut MPKP dengan istilah MAKP. Sepintas, ide mengganti kata-kata dalam singkatan MPKP kelihatan cerdas, kritis dan peka keadaan. Namun benarkah demikian? Mari kita coba berpikir kritis sejenak.</p>
<p>Kata model tidak perlu diganti, karena harus diakui bahwa memang terdapat banyak model dalam mengaplikasikan konsep keperawatan. MPKP hanya salah satu model yang ditawarkan dan dirasa pas dengan kondisi keperawatan di Indonesia. Kata profesional juga tidak perlu diganti dengan kata lainnya, karena harus diakui bahwa praktik keperawatan yang dilakukan sebelumnya memang jauh dari kesan profesional. Penggunaan kata profesional juga sangat menginspirasi setiap perawat yang sudah mencoba bekerja dalam format MPKP. Jadi tidak ada yang salah dengan penggunaan kata profesional dalam MPKP. Kata praktik juga sama sekali tidak perlu diganti dengan kata pelayanan atau kata asuhan karena hakikatnya pelayanan keperawatan adalah praktik keperawatan, yaitu suatu praktik yang diberikan pada klien berdasarkan keahlian, keterampilan, konsep, teknologi dan tata etika keperawatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kata praktik keperawatan sama sekali tidak identik dengan penyebutan untuk praktek mahasiswa atau mahasiswa praktek di rumah sakit. Kata praktik bermakna lebih luas karena mewakili jenis pelayanan publik yang dilakukan oleh kaum profesional, termasuk perawat. Sebagai bukti, lihat saja profesi kedokteran, mulai dari undang-undangnya disebut undang-undang praktik kedokteran (bukan pelayanan kedokteran atau asuhan kedokteran), ketika buka pelayanan mandiri di rumah atau di apotik, mereka menyebutnya praktik umum atau praktik spesialis. Terakhir, kata praktik juga tidak perlu diganti dengan kata asuhan karena justru akan mempersempit lingkup praktik keperawatan. Seperti kita ketahui bahwa dalam pendekatan MPKP, ada management approach (pendekatan manajerial, yang menjadi area kepala ruang) dan care delivery approach (pendekatan asuhan keperawatan, yang menjadi area ketua tim). Jika kata praktik diganti dengan kata asuhan, maka pendekatan yang diberikan semata-mata pendekatan asuhan keperawatan, pendekatan manajerial keperawatan sama sekali tidak diberi tempat. Apa itu yang kita mau? Masih ingin mengganti MPKP dengan kepanjangan yang lain? Masih ingin mengganti MPKP menjadi MAKP?</p>
<p>Kesimpulannya tidak ada satu katapun dalam singkatan MPKP yang harus diganti. Biarkan apa adanya. Karena yang terpenting bukan menyoal singkatannya, tapi bagaimana mengimplementasikan konsep MPKP secara optimal, sehingga keperawatan benar-benar menjadi backbone pelayanan prima dan profesional rumah sakit.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mrgie.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mrgie.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mrgie.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mrgie.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mrgie.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mrgie.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mrgie.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mrgie.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mrgie.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mrgie.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mrgie.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mrgie.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mrgie.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mrgie.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mrgie.wordpress.com&amp;blog=6719154&amp;post=46&amp;subd=mrgie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mrgie.wordpress.com/2009/05/12/antara-mpkp-atau-makp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ba4308ffa91a3cca96ab6ac537953947?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mas gie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Critical Thinking Dalam Keperawatan Jiwa</title>
		<link>http://mrgie.wordpress.com/2009/03/06/critical-thinking-dalam-keperawatan-jiwa/</link>
		<comments>http://mrgie.wordpress.com/2009/03/06/critical-thinking-dalam-keperawatan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 21:52:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mas gie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mrgie.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Banyak perawat, pengajar keperawatan jiwa dan pembimbing klinik keperawatan jiwa yang hanya mengandalkan textbook sebagai acuan berpikir dan praktiknya. Tidak peduli, textbook tersebut sebenarnya telah out of date alias kadaluwarsa. Parahnya lagi, mereka cenderung menolak segala bentuk pemikiran kritis, inovasi dan pembaharuan yang setiap tahun selalu berkembang. Mereka masih masih menganggap konsep yang selama ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mrgie.wordpress.com&amp;blog=6719154&amp;post=17&amp;subd=mrgie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak perawat, pengajar keperawatan jiwa dan pembimbing klinik keperawatan jiwa yang hanya mengandalkan textbook sebagai acuan berpikir dan praktiknya. Tidak peduli, textbook tersebut sebenarnya telah out of date alias kadaluwarsa. Parahnya lagi, mereka cenderung menolak segala bentuk pemikiran kritis, inovasi dan pembaharuan yang setiap tahun selalu berkembang. Mereka masih masih menganggap konsep yang selama ini dipegang adalah yang terbaik. Dengan segala dalih mereka berargumen untuk membenarkan keyakinannya. Mereka tak sadar, bahwa sikap tersebut telah menyesatkan dirinya sendiri dan banyak mahasiswa keperawatan.</p>
<p>Contoh nyata, masih banyak pengajar keperawatan jiwa, khususnya di jenjang pendidikan D3 Keperawatan yang menolak konsep aplikasi TUK menggunakan SP. Padahal konsep SP disusun untuk membuat TUK lebih aplikatif dan mencakup ranah yang lebih luas, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor pasien. Bahkan masih banyak yang beranggapan bahwa TUK harus sekuensial alias urut, tanpa memperhatikan respon pasien yang dinamis. </p>
<p>Berdasarkan fenomena tersebut, pemikiran kritis atau critical thinking ternyata sangat diperlukan dalam keperawatan jiwa. Tidak hanya sebatas ketika akan menerapkan suatu konsep, namun sampai menelaah kesahihan konsep yang ada. </p>
<p>Pemikiran kritis bisa dilakukan dengan beberapa langkah sederhana. Pertama, dengan menggunakan kerangka logika ilmiah. Apakah konsep atau praktik tersebut logis atau tidak. Jika logis, maka mungkin bisa diterima. Jika tidak, maka buang secepatnya. Kedua, dengan membandingkan dengan main stream konsep atau praktik yang sudah terlebih dahulu dianut. Jika masih ada benang merahnya, maka mungkin bisa dipertimbangkan untuk diterima. Jika tidak, maka delete segera. Ketiga, dengan mencari evidence based-nya. Apakah konsep atau praktik tersebut disusun berdasarkan hasil riset atau tidak. Jika ada evidence based-nya, maka bisa diterima. Jika tidak, jangan sekali-kali berpikir untuk menerima. Keempat, dengan melihat dari mana sumbernya. Sumber yang dimaksud disini adalah dari mana atau dari siapa konsep atau praktik itu muncul. Kalau bersumber dari buku, lihat siapa pengarangnya dan penerbitnya. Kredibel-kah pengarangnya? Bonafid-kah penerbitnya? Karena di jaman sekarang siapapun bisa ngarang dan menerbitkan buku. Oleh karena itu, sangat bijak jika kita hanya mengacu pada sumber dan penerbit yang selama ini telah kita kenal kredibel dan bonafid. Kelima, yang tak kalah penting, yaitu dengan mempertimbangkan tahun dikeluarkannya. Karena kita harus sadar bahwa ilmu dan teknologi selalu berkembang. Jika kita hanya terpaku pada literatur lama, sudah pasti kita sudah ketinggalan jaman. Banyak literatur baru yang muncul dan bisa dijadikan acuan. Banyak yang gratis pula, terutama yang dipublikasikan di internet. Sebagai pedoman, gunakan literatur maksimal dari 5 tahun terakhir.</p>
<p>Mari kita mulai berpikir kritis dari sekarang dan mulai dari diri kita sendiri. Setuju?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mrgie.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mrgie.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mrgie.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mrgie.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mrgie.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mrgie.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mrgie.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mrgie.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mrgie.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mrgie.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mrgie.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mrgie.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mrgie.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mrgie.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mrgie.wordpress.com&amp;blog=6719154&amp;post=17&amp;subd=mrgie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mrgie.wordpress.com/2009/03/06/critical-thinking-dalam-keperawatan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ba4308ffa91a3cca96ab6ac537953947?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mas gie</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
